Jakarta, 21 Maret 2026 — Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa rencana pengiriman pasukan Indonesia ke Gaza bukan untuk melucuti senjata Hamas, melainkan murni sebagai pasukan penjaga perdamaian (peacekeeping force).
Pernyataan ini sekaligus membantah laporan media Israel, Haaretz, yang menyebut Indonesia akan mengirim ratusan prajurit untuk menjalankan misi pelucutan senjata terhadap Hamas.
Tegas: Bukan Misi Militer
Dalam acara “Presiden Prabowo Menjawab” di kediamannya di Hambalang, Bogor, Prabowo menegaskan posisi Indonesia yang tidak akan terlibat dalam operasi militer.
“Kita tegas, tidak mau terlibat dalam aksi militer terhadap Hamas,” ujar Prabowo.
Ia juga menolak keterlibatan Indonesia dalam upaya deweaponization atau pelucutan senjata.
“Kita tidak mau terlibat dalam mengambil senjata dari Hamas. Yang kita mau adalah menjaga rakyat sipil dari serangan mana pun,” lanjutnya.
Luruskan Pemberitaan Media Israel
Sebelumnya, Haaretz melaporkan bahwa Indonesia akan mengirim sekitar 500 prajurit ke Gaza pada Mei mendatang untuk membantu pelucutan senjata Hamas.
Dalam laporan tersebut, bahkan disebutkan adanya keraguan dari militer Israel terhadap kemampuan pasukan Indonesia dalam menjalankan misi tersebut.
Namun, pernyataan Presiden Prabowo secara tegas meluruskan bahwa informasi tersebut tidak sesuai dengan rencana Indonesia.
Fokus pada Perlindungan Sipil
Prabowo menegaskan bahwa misi Indonesia di Gaza berfokus pada perlindungan warga sipil di tengah konflik, bukan untuk terlibat dalam pertempuran.
Rencana ini merupakan bagian dari skema Board of Peace (BoP), sebuah inisiatif multilateral yang juga melibatkan sejumlah negara.
Indonesia, menurut Prabowo, hanya akan berpartisipasi jika semua pihak menyetujui, termasuk negara-negara mayoritas Muslim seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Turki, Pakistan, Qatar, dan Mesir.
Selain itu, persetujuan dari Hamas sebagai pihak yang menguasai wilayah Gaza juga menjadi syarat penting.
“Secara de facto, Hamas harus menerima kita. Karena kita ingin menjadi pasukan penjaga perdamaian,” jelasnya.
Pengiriman Pasukan Masih Ditunda
Meski telah menyiapkan hingga 8.000 personel TNI untuk misi stabilisasi kemanusiaan bersama International Stabilization Force (ISF), Prabowo mengungkapkan bahwa rencana tersebut saat ini ditangguhkan.
Penundaan dilakukan menyusul meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya antara Iran dan aliansi Amerika Serikat–Israel.
“Secara de facto semuanya masih on hold,” kata Prabowo.
Komitmen Indonesia Tetap Konsisten
Presiden menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari komitmen historis Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina.
“Saya menjalankan perjuangan bangsa Indonesia dari dulu. Kita selalu membela kemerdekaan Palestina,” tegasnya.
Meski situasi belum memungkinkan, Indonesia tetap membuka peluang untuk berkontribusi dalam misi perdamaian internasional, selama prinsip netralitas, persetujuan semua pihak, dan mandat global terpenuhi.





